Kuis SMS Berhadiah Kebutuhan atau Pembodohan?

Wednesday, January 7, 2009 4:44
Kuis SMS Berhadiah Kebutuhan atau Pembodohan?

Demam talent show di semua stasiun televisi swasta kita diikuti pula oleh maraknya kuis Short Message Service (SMS) berhadiah. Deretan acara Kuis SMS seperti Super Show, Iseng, Teka-teki Silang, Gebyar BCA, Infotainment dan yang paling baru, Spektakuis yang ditayangkan di salah satu stasiun TV menjadi bukti menjamurnya kuis SMS berhadiah. . Pada acara-acara olah raga, kuis SMS Berhadiah juga tak ketinggalan. Ditambah lagi sinetron-sinetron yang kerapkali diselingi dengan kuis SMS Berhadiah.
Maraknya kuis SMS berhadiah ditanggapi serius oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Terbukti dengan dikeluarkannya fatwa haram atas adanya unsur judi dalam kuis SMS. Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI, KH. Ma’ruf Amin, kuis SMS haram hukumnya karena mengandung unsur judi. “Itu karena hadiah undian SMS bersumber dari akumulasi hasil perolehan SMS, dimana tarif SMS tersebut di luar ketentuan normal.” Keputusan ini senada dengan PBNU yang mengharamkan kuis SMS berhadiah pertengahan Agustus 2006.

Tulisan ini tidak membahas kuis SMS dari sisi halal atau haramnya, tetapi dari sudut pandang Psikologi Ekonomi.

Psychology of Gambling

Perjudian (gambling) adalah perilaku (bisa permainan ataupun aktivitas lainnya) yang melibatkan elemen kesempatan untuk memenangkan uang atau hadiah tertentu (Lea, Stephen, 1987; Carson & Butcher, 1992). Apa yang dipertaruhkan dapat saja berupa uang, barang berharga, atau makanan. Perjudian tidak melibatkan kerja produktif, dan penentuan hasil (menang/kalah) dipengaruhi oleh elemen kesempatan (probability). Dapat disimpulkan, kuis SMS berhadiah dapat dikategorikan sebagai perjudian.

Hasil penelitian dalam Psikologi Ekonomi tentang perilaku gambling menyebutkan adanya pola pikir manusia yang tidak rasional pada permainan lotere. Salah satu konsep yang dapat menjelaskan hal ini  adalah illusion of control.

Illusion of Control

Istilah Illusion of control pertama kali dikemukakan oleh E.J. Langer pada tahun 1975 dalam Journal of Personality and Social Psychology. Langer melakukan penelitian eksperimen pada perilaku orang-orang yang mengikuti permainan lotere.

Dalam penelitiannya, Langer menjual tiket lotere seharga $1 kepada 53 orang pekerja. Setiap tiket lotere berpasangan, satu tiket dipegang oleh pembeli dan satu tiket lainnya dimasukkan ke dalam kotak untuk kemudian diundi. Hadiah bagi pemenang berupa uang yang terkumpul dari penjualan tiket, yaitu $53.

Ada dua perlakuan yang diberikan pada pekerja yang membeli lotere. Setengah dari pekerja mendapatkan tiket lotere dengan cara diberikan oleh peneliti (non-choosers), sedangkan setengahnya lagi dapat memilih sendiri tiketnya (choosers).

Beberapa hari kemudian, para pekerja tersebut didatangi dan ditanyakan berapa harga yang mereka minta untuk melepaskan tiket loterenya. Bagi pekerja yang memilih sendiri tiket loterenya (choosers), rata-rata uang yang diminta adalah $8, sedangkan untuk non-choosers seharga $2.

Perbedaan antara choosers dan non-choosers disebut Langer sebagai illusion of control, yang didefinisikan sebagai ”…an expectancy of a personal success probability inappropriately higher than the objective probability would warrant” (Langer dalam Bar-Hiller & Neter, 1996:17)

Seseorang yang membeli jeruk di pasar, ketika dapat memilih sendiri jeruk yang akan dibeli, ia meyakini akan mendapatkan jeruk yang lebih baik daripada jeruk yang diambil oleh penjual secara acak. Demikian juga pada hipotesis Langer, pemilihan sendiri atas tiket lotere menimbulkan keyakinan seakan-akan mereka dapat memilih untuk menentukan nasib kemenangannya.

Permintaan harga yang lebih tinggi untuk tiket lotere yang dipilih sendiri menggambarkan probabilitas subyektif yang lebih tinggi untuk menang lotere, dibandingkan dengan tiket yang dipilih acak oleh penjual. Padahal, pada kenyataannya, setiap tiket (baik yang dipilih secara acak maupun yang dipilih sendiri) memiliki kesempatan yang sama untuk menang.

Pada kuis SMS berhadiah, illusion of control banyak dipakai sebagai senjata provider dalam bisnis kuis SMS. Coba perhatikan, apakah pertanyaan pada kuis SMS memang membutuhkan keahlian tertentu untuk dapat menjawabnya? ataukah pertanyaannya memang mudah dan pilihan jawabannya pun dapat ditebak dengan mudah? Inilah illusion of control yang coba dibangkitkan pada peserta kuis SMS berhadiah.

Keyakinan bahwa ia mampu menjawab pertanyaan kuis dengan benar, menyebabkan peserta kuis merasa memiliki peluang yang besar untuk dapat memenangkan hadiah yang ditawarkan. Padahal pada kenyataannya, hampir semua orang juga bisa menjawab pertanyaan kuis SMS, dan probabilitas kemenangan kuis juga tidak menjadi besar.

Siapa yang Diuntungkan?

Bagi provider yang menyelenggarakan kuis SMS berhadiah, keuntungan materi hampir dapat dipastikan akan besar. Sebagai gambaran, di tahun 2003, Telkomsel yang menyelenggarakan kuis Ramadhan, berhasil meraup keuntungan tak kurang dari 17 M dari 34.034.000 SMS yang masuk.

Asumsi keuntungan Kuis Ramadhan 1423 H Telkomsel itu adalah: jumlah kiriman SMS X harga SMS atau kalau di rupiahkan menjadi 34.034.000 X Rp 500,- = Rp 17.017.000.000,-. Keuntungan sebesar itu terjadi saat biaya per satu kali SMS adalah Rp 500,-. Dapat dibayangkan berapa rupiah keuntungan provider kuis SMS saat ini ketika setiap kali pengiriman SMS adalah Rp 2000,- ?

Ini berbeda ketika dilihat dari sisi konsumen kuis. Kuis SMS telah membodohi masyarakat. Secara tidak sadar seseorang telah dibangkitkan illusion of control-nya dengan diberikan pertanyaan yang mudah dijawab, sehingga mampu memancing seseorang untuk mengikuti kuis SMS dengan tanpa pertimbangan yang matang. Banyaknya peserta Kuis SMS membuktikan bahwa budaya instan semakin subur. Pemirsa digiring untuk berharap sesuatu yang besar tanpa bekerja keras.

Upaya yang Perlu Dilakukan

Dampak negatif Kuis SMS berhadiah ini bisa diminimalisir dengan mengupayakan 3 alternatif. Yang pertama, penguatan kemampuan berpikir kritis seseorang. Bagaimana seseorang dapat menyadari potensinya untuk mengalami illusion of control, tetapi ia tidak mengikuti keyakinan semu-nya akan keberhasilan tanpa kerja keras. Upaya ini dapat dilakukan melalui pendidikan kritis, diawali dari lingkungan terkecil (keluarga), sekolah, masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama membangun suasana yang kondusif dalam membudayakan berpikir kritis.

Upaya kedua, melalui pemberian informasi dan penyadaran tentang kerugian mengikuti kuis SMS berhadiah. Informasi tersebut bisa diberikan melalui himbauan tokoh, atau kelompok-kelompok di masyarakat. Langkah MUI dan PBNU dapat dijadikan contoh yang baik.

Ketiga, perlunya regulasi pemerintah tentang kuis SMS berhadiah. Regulasi ini diperlukan agar penyelenggaraan Kuis SMS Berhadiah tidak membawa dampak yang buruk bagi masyarakat. Semua alternatif tersebut bisa dilakukan, tinggal bagaimana kemauan kita?

Sumber : http://www.muslimat-nu.or.id

No related posts.

No related posts.

Tulisan ini dikategorikan di : Artikel, Lain-Lain Tags: , , ,
Anda dapat memberikan komentar, atau melakukan trackback dari situs anda.

Tidak ada komentar.

Berikan komentar










Quotes

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. — Khalifah ‘Umar

Album Foto

Kategori Berita

Arsip Berita / Artikel

Event Calendar

September 2010
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930EC

Tautan

Admin YM Status