Imam Masjid

Tuesday, January 6, 2009 13:29
Imam Masjid

Hampir sebulan ini, Mr Bond menjadi imam salaf fardhu di masjid dekat rumah. Penunjukan ini berdasar rekomendasi dari Pak Imam Masjid karena Mr Bond dianggap loyal terhadap masjid dengan indikasi, sering ke masjid tiap salat fardhu. ”Saya buat gantian imamnya supaya makmum tidak bosan mendengar suara saya terus,” kata Pak Imam beralasan.

Kadang Mrs Bond diajak serta ke masjid. Sengaja tidak terlalu sering, karena menurut pengetahuan agama Mr Bond yang dangkal, perempuan tidak diwajibkan ke masjid. Perempuan lebih disarankan beribadah di rumah daripada di masjid.

Selain soal intensitas kedatangan, Pak Imam menganggap Mr Bond lebih fasih dalam melantunkan ayat suci dibanding jamaah lain. Namun yang lebih penting, Mr Bond menyatakan bersedia ketika Pak Imam meminta namanya masuk dalam daftar imam masjid. ”Beberapa warga sebenarnya fasih dan mumpuni dalam hal agama. Namun mereka tidak bersedia karena alasan sibuk,” kata Pak Imam.

Mister Bond hanya diam mendengarkan meski akhirnya tak tahan juga untuk bertanya. ”Apa jamaah di sini ikhlas saya jadi imam mereka?”
”Kenapa tanya begitu?” Pak Imam balik tanya.
”Mereka kan tahu, saya hanya tukang kebun sekolah, Pak. Apa mereka tidak malu dipimpin oleh Pak Bon seperti saya?” tanya Mr Bond sebelum menjawab kesediaan namanya tercantum dalam daftar imam salat fardhu di masjid.

Pak Imam tersenyum bijak. ”Sampeyan bisa lihat sendiri kan, saat sampeyan jadi imam salat apa ada yang langsung meninggalkan shafnya?”
”Wah ya nggak tahu, Pak. Makmum kan ada di belakang saya. Masak saya tolah-toleh ke belakang mengontrol ada makmum yang pulang apa tidak,” canda Mr Bond yang dijawab Pak Imam dengan senyum lebih lebar.
”Iya ya, he…he..he,” kata Pak Imam masih terkekeh.. ”Tapi setahu saya, nggak ada yang keberatan kok waktu sampeyan jadi imam.”

Kepala Mr Bond mengangguk menyatakan percaya dengan ucapan Pak Imam. ”Saya hanya takut, Pak,” suaranya Mr Bond terdengar parau.
”Apanya yang ditakutkan?” tanya Pak Imam. ”Wong jadi imam hanya sekitar 5-10 menit aja kok takut.”

”Fitnah, Pak,” tegas Mr Bond pendek. Namun akhirnya kemudian diutarakan kekhawatirannya.”Tidak semua warga di sini senang dengan saya. Entah karena saya yang hanya tukang kebun sehingga secara strata sosial lebih rendah dibanding makmum lain, atau karena menyakiti mereka. Saat mereka tahu saya jadi imam, tidak menutup kemungkinan timbul fitnah yang didasari ketidaksenangan mereka terhadap saya.”

”Itulah risiko seorang pemimpin,” jawab Pak Imam kalem. ”Jadi pemimpin apapun harus siap menghadapi segala risiko, termasuk fitnah dan hujatan.”
”Itu kan pemimpin di luar masjid yang banyak duitnya, Pak. Kalau di masjid, sudah gak ada duitnya, difitnah lagi,”
”Sampeyan minta dibayar berapa?” tantang Pak Imam.
”Bukan begitu, Pak,” sahut Mr Bond buru-buru menjelaskan maksud ucapannya. ”Mestinya masyarakat tahu kalau jadi imam di masjid tanggung jawab moralnya cukup besar karena langsung berhubungan dengan Sang Maha Pencipta.”

”Apa sampeyan kira pemimpin di luar masjid tidak memiliki tanggung jawab di depan Yang Maha Kuasa, kelak?” kata Pak Imam membalik ucapan Mr Bond. ”Mereka juga akan ditanya, apa niatnya jadi pemimpin? Untuk memakmurkan yang dipimpin atau mengumpulkan kekayaan diri sendiri?; Jalan apa saja yang ditempuh untuk jadi pemimpin?; Kalau sudah jadi pemimpin, dipenuhi apa nggak janji-janji yang diucapkan saat kampanye?: dan masih banyak pertanyaan lain yang melebihi pertanyaan DPR atau KPK,” papar Pak Imam.

Kali ini Mr Bond benar-benar kena batunya. Menghadapi Pak Imam, Mr Bond benar-benar tidak berkutik. Sangat jauh berbeda ketika berhadapan dengan komunitas jaga yang ilmunya masih dibawah Mr Bond.

Pak Imam masih meneruskan kalimatnya. ”Justru imam di masjid menjadi presentasi tersendiri untuk mengetahui seseorang sebenarnya disukai apa tidak. Misalnya makmum tidak menghendaki, imam bisa diganti siapa saja yang dianggap menyenangkan makmum. Tapi sebaliknya, imam di masjid tidak bisa menentukan siapa saja yang berhak jadi makmum. Tahu maksud saya?”

Mister Bond mengangguk. Dalam hatinya terpatri untuk menjalankan amanah yang dibebankan Pak Imam. Dan tak kalah penting, Mr Bond bertekad untuk menjadi imam yang disukai makmum agar pertanggungjawaban di akherat kelak memudahkan proses hisab.

Soal implementasi menjadi imam yang disukai makmum, Mr Bond meyakini seseorang berbeda dengan orang lain. Masing-masing imam memiliki cara sendiri untuk disukai makmum dengan ikhlas. (noordin djihad)

Dikutip dari : http://www.koranpendidikan.com/

No related posts.

No related posts.

Tulisan ini dikategorikan di : Karya, Lain-Lain Tags: ,
Anda dapat memberikan komentar, atau melakukan trackback dari situs anda.

Tidak ada komentar.

Berikan komentar










Quotes

Dua hal yang membangkitkan ketakjuban saya – langit bertaburkan bintang di atas dan alam semesta yang penuh hikmah di dalamnya. — Einstein

Album Foto

Kategori Berita

Arsip Berita / Artikel

Event Calendar

May 2012
M T W T F S S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031EC

Tautan

Admin YM Status